This awesome blogger theme comes under a Creative Commons license. They are free of charge to use as a theme for your blog and you can make changes to the templates to suit your needs.
RSS

Rayakan Valentine dengan Kartu Berumur 70 Tahun

MANUSIA DAN CINTA KASIH
Desliana Carolina
14/02/2011 09:22 | Hari Valentine
Liputan6.com, London: Harry dan Doris Ward adalah pasangan suami-istri asal Inggris yang telah menikah selama 69 tahun. Jika dilihat sekilas, tidak ada yang istimewa dari pasangan ini. Namun ada satu hal yang membuat pasangan yang satu ini patut untuk dicontoh. Pasalnya mereka merayakan Valentine Day dengan kartu yang sama setiap tahun selama 70 tahun berturut-turut. Keduanya mengaku kartu tersebut adalah saksi bisu dari lika-liku kisah cinta mereka.


Pasangan yang dikaruniai dua anak, dua cucu dan empat cicit ini pertama kali bertemu di 1941. Kisah mereka berawal dari pertemuan di sebuah kafe yang terletak di Bristol-Inggris. Harry muda yang saat itu berumur 17 tahun terpesona oleh kecantikan Doris. Keduanya lalu memutuskan untuk merajut kasih dan merayakan hari kasih sayang pertaman mereka pada 14 Februari 1941. Tanggal itu pulalah yang tercantum pada kartu istimewa setua 70 tahun tersebut.


"Aku tahu Doris adalah belahan jiwaku sejak pertama kali kami bertemu. Perayaan Valentine pertama kami sangat manis dan sampai saat ini dia masih menjadi kencan Valentine saya," kata Harry.


Sejak saat itulah keduanya merayakan hari kasih sayang dengan kartu yang sama. Ketika mendekati 14 Februari, Doris akan mengeluarkan kartu berumur 70 tahun itu dan menempatkannya di dekat tempat mantel. Yang membuat setiap kerabat yang melihatnya kagum akan kekuatan cinta mereka.


Ketika ditanya resep rahasia awetnya cinta mereka, Doris hanya tersenyum dan mengatakan, "Harry adalah orang yang sangat romantis. Kami tidak pernah pergi tidur tanpa ciuman selamat malam. Kami masih saling cinta sama seperti sejak ia memberikan kartu itu untuk pertama kalinya." (Telegraph/YUS)

Kesimpulan:
Kita sebagai manusia tentu memiliki rasa cinta dan kasih kepada sesama. Cinta adalah rasa sayang dan rasa mengasihi yang dimiliki oleh manusia, tidak semua individu bisa mencintai individu lain nya, tidak setiap individu bisa mengasihi individu lain nya, karna hanya individu yang benar-benar mengasihi seorang individu yang bisa merasakan arti Cinta dan Kasih.Cinta dan Kasih adalah hal yang lumrah yang dirasakkan oleh setiap manusia, karna manusia belum dikatakan sempurna jika belum memiliki rasa Cinta dan Kasih, ketika manusia tidak memiliki Cinta Kasih, manusia tersebut tidak ubahnya seperti robot.

Sumber:
http://gayahidup.liputan6.com/read/320277/rayakan_valentine_dengan_kartu_berumur_70_tahun
0 komentar

Giliran Angklung Masuk Daftar UNESCO

NILAI ILMU BUDAYA DASAR


Anri Syaiful

18/11/2010 16:18

Liputan6.com, Jakarta: Setelah batik, keris dan wayang, kini alat musik tradisonal angklung diakui UNESCO. Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa itu menilai angklung Indonesia memenuhi kriteria sebagai warisan budaya tak benda dunia. Beberapa alasan utamanya, angklung adalah seni musik yang mengandung nilai-nilai dasar kerja sama, saling menghormati dan keharmonisan sosial, yang merupakan bagian utama identitas budaya masyarakat di Jawa Barat dan Banten.

Dimasukkannya angklung ke dalam representative list of humanity akan meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya arti warisan budaya tak benda, dan mempromosikan nilai-nilai kerjasama, disiplin dan saling menghormati.

Langkah-langkah pelestarian yang dilaksanakan Indonesia telah melibatkan kerja sama menyeluruh antara seniman, pemerintah dan masyarakat dengan tujuan mendorong tersebarnya pengetahuan angklung dalam konteks formal dan informal. Selain itu, diselenggarakannya lebih banyak pertunjukan kesenian angklung, berkembangnya kerajinan angklung, dan keberlanjutan tanaman bambu yang menjadi bahan baku angklung.

Pertimbangan lain, nominasi angklung mencerminkan luasnya partisipasi komunitas baik dalam usaha-usaha pelestarian dan dalam proses penyusunan nominasi angklung ke UNESCO, yang dilaksanakan melalui konsultasi formal.

Seluruh upaya pemerintah Indonesia tersebut merupakan perwujudan komitmen sebagai negara pihak Konvensi UNESCO tentang Perlindungan Warisan Budaya Tak Benda yang berlaku sejak 2003. Konvensi ini telah diratifikasi 132 negara, termasuk Indonesia pada 2007.

Konvensi tersebut menekankan perlindungan warisan budaya tak benda, yaitu tradisi bertutur dan berekspresi, ritual dan festival, kerajinan tangan, musik, tarian, dan pergelaran seni tradisional.

Sidang UNESCO dibuka oleh Wakil Presiden Kenya Stephen Kalonzo Musyoka yang didampingi Direktur Jenderal UNESCO Irina Bokova dan Dr. Jacob Ole Miaron, Ph.D sebagai chairperson (presiden persidangan) dari Kenya. Sebanyak 460 peserta hadir sebagai utusan maupun perwakilan dari negara-negara bersangkutan, peninjau, perwakilan organisasi internasional, perwakilan lembaga swadaya masyarakat, dan pakar budaya.(ANS/Ant)


Kesimpulan:

Ilmu Budaya Dasar merupakan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Dengan dengan adanya ilmu dasar ini diharapkan manusia akan bisa menjadi lebih manusiawi, lebih berbudaya, dan lebih halus.

Pengetahuan budaya bertujuan untuk memahami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi. Untuk mengkaji hal itu digunakan metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan pernyataan-pernyataan yang bersifat unik, kemudian diberi arti. Ilmu Budaya Dasar menggunakan pengertian-pengertian yang berasal dari berbagai bidang pengetahuan budaya untuk mengembangkan wawasan pemikiran dan kepekaan dalam mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.


Jadi: Kita sebagai WNI yang mencintai budaya yang kita miliki kita harus melestarikan kebudayaan yang kita miliki agar tidak diakui oleh Negara lain.


Sumber:

http://berita.liputan6.com/sosbud/201011/307176/giliran_angklung_masuk_daftar_unesco

0 komentar

Rambu Solo`: Gerbang Menuju Alam Baka

MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP



14/05/2005 13:44
Liputan6.com, Tana Toraja: Suatu hari di dataran tinggi Tanah Toraja. Saat itu, malam kian kelam ketika rembulan memancarkan pantulan cahayanya. Di sekeliling halamanTongkonan atau rumah adat Tana Toraja terlihat sanak saudara dan para keluarga mendiang Ne Ne Lai Sumule berkumpul menandai dimulainya pembukaan ritual pemakaman adat Toraja. Suasana pun menjadi sakral ketika mereka bersama-sama melantunkan syair kesedihan dalam tarian Mabadong. Tarian ini menyimbolkan ratapan kesedihan mengingat jasa mendiang semasa hidupnya serta sebagai ungkapan dukacita bagi orang-orang yang ditinggalkannya.


Adapun, orang Toraja meyakini, seorang bangsawan akan mendapatkan tempat yang terhormat dalam strata sosial masyarakat. Mereka selalu menjunjung tinggi orang yang berstatus bangsawan untuk dihormati serta dicintai layaknya seorang raja. Pandangan semacam inilah yang acap ditemui di dalam masyarakat adat Toraja hingga sekarang.


Tana Toraja di Sulawesi Selatan adalah daerah yang indah. Wilayah kabupaten ini didominasi dataran tinggi. Hamparan pegunungan dan perbukitan pun seolah menjadi saksi bisu asal muasal kehidupan manusia di sana. Di kaki pegunungan Kandora, misalnya. Di sinilah beragam kisah dan legenda mengiringi munculnya masyarakat Toraja.


Syahdan, sekitar 15 abad lampau, sekumpulan imigran dari Teluk Tongkin, daratan Cina, berlabuh di kawasan pegunungan sebelah barat Sulsel. Para imigran asal Indo Cina ini akhirnya memilih menetap dan membaur dengan penduduk asli di pedalaman. Akulturasi atau percampuran budaya mereka inilah yang kemudian sering disebut kebudayaan Toraja.


Dalam bahasa Bugis Sindendereng, Toraja diartikan sebagai orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan. Namun masyarakat Toraja menyebut dirinya sebagai orang maraya atau keturunan bangsawan. To artinya tau atau orang, Raya dari kata maraya yang berarti besar.


Legenda Toraja pun mengisahkan, pegunungan Kandora merupakan tempat keturunan bangsawan bernama Puang Sawerigading bernaung. Di kaki gunung ini pula istri Puang Sawerigading bernama Puang Pindakati bersemayam. Secara turun-temurun mereka bermukim dan berkuasa di wilayah Tengan atau sekarang dikenal dengan sebutan Mengkendek--Kecamatan Mengkendek.


Kala itu, penduduk Toraja masih menganut kepercayaan animisme, yakni Aluk Tadolo. Mereka mempercayai adanya kehidupan yang kekal setelah kematian. Lantaran itulah, mereka tidak mengenal konsep surga maupun neraka dalam ajaran hidupnya. Kendati demikian, orang Toraja percaya bahwa alam baka merupakan persinggahan terakhir di dalam fase kehidupan yang kekal.


Zaman pun berganti. Ada yang tak berubah, salah satunya adalah pematang sawah masih menghampar luas di bawah kaki Gunung Kandora. Memang, sejak berabad-abad lampau, daerah nan subur ini menjadi tumpuan masyarakat Toraja yang berada di daerah Makale. Seperti kehidupan masyarakat pedesaan pada umumnya, sebagian besar masyarakat Toraja menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian dan beternak kerbau.


Tak mengherankan, bila di Tana Toraja banyak dijumpai rumah yang menyerupai perahu Cina biasa disebut Tongkonan. Rumah adat ini dilengkapi dengan lumbung tempat menyimpan padi sekaligus sebagai lambang kebesaran dan kesejahteraan masyarakat Toraja.


Dulu, Tongkonan juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan kegiatan sosial. Lantaran itulah jarang sekali rumah adat Tongkonan dimiliki secara perseorangan. Namun harus dimiliki secara bersama dan turun-menurun. Selain bentuknya yang menyerupai perahu Cina, setiap panel depan rumah terpasang untaian tanduk kerbau yang melambangkan status sosial dan kebangsawanan bagi penghuninya.


Status kebangsawanan orang Toraja mudah dikenali, terutama saat mereka melakukan ritual pemakaman orang yang meninggal dunia. Berbeda dengan masyarakat biasa, para bangsawan suku Toraja jika meninggal dunia jenazahnya diawetkan terlebih dahulu sebelum dikuburkan. Ciri lainnya, jenazah bangsawan biasanya dimakamkan di atas tebing maupun gua-gua di wilayah Tana Toraja beserta harta benda kesukaan mereka.


Umumnya, harta benda kesukaan mendiang dimasukkan dalam peti bersama jenazah sebelum dimakamkan. Menurut penghulu adat Marten Ruruk, barang-barang ini diyakini menjadi bekal atau perkakas ke alam baka. Kebiasaan ini banyak dijumpai di kawasan Tebing Londa, Kecamatan Sangala, Tana Toraja. Di sana ada sekitar puluhan jenazah dikubur bersama hartanya di dalam gua.


Sejak dahulu kala hingga sekarang, orang Toraja memang mewarisi kebudayaan megalit atau zaman batu. Pewarisan nilai sejarah tersebut dapat terlihat di dalam setiap upacara pemakaman para bangsawan. Ini menandakan tradisi kebudayaan purbakala memang melekat erat dalam adat istiadat masyarakat Tana Toraja. Peninggalan masa megalit atau megalitikum. Tengok saja batu-batu menhir setinggi tiga meter yang berada di sana. Orang Toraja menyebutnya sebagai simbuang batu.


Dalam ritual pemakaman, simbuang batu berfungsi sebagai tempat mengikat kerbau yang akan dikurbankan dalam upacara. Konon, batu menhir ini ditancapkan pertama kali tahun 1657. Ketika itu ratusan ekor kerbau dikurbankan untuk upacara pemakaman Dinasti Rante Kalimbuang.


Kini, zaman telah berubah, seiring munculnya agama-agama Samawi yang mengubah keyakinan agama orang Toraja. Kendati begitu, tradisi dan budaya leluhur mereka masih dipegang erat. Tradisi leluhur inilah yang kemudian menjadi perekat kekerabatan masyarakat Toraja akan tanah kelahiran nenek moyang mereka.


Saat prosesi pemakaman adat Toraja yang dinamakan upacara Rambu Solo`, misalnya. Boleh dibilang, Rambu Solo` adalah ritual yang sangat panjang dan melelahkan. Sebab kematian bukanlah akhir dari segala risalah hidup. Maka, suatu kewajiban bagi keluarga untuk merayakan pesta terakhir sebagai bentuk penghormatan kepada arwah yang akan menuju ke alam puya atau alam baka.


Biasanya pesta kematian berjalan hingga berhari-hari. Tak sedikit pula biaya yang harus dikeluarkan pihak keluarga untuk membiayai jalannya prosesi Rambu Solo`. Selama itu, jenazah disemayamkan dalam peti rumah duka.


Walau secara medis seseorang telah dianggap meninggal dunia, berdasarkan adat istiadat Toraja, orang yang mati dianggap sedang tidur selama keluarga belum menjalankan upacara Rambu Solo`. Contohnya mendiang Ne Ne Lai Sumule. Dia meninggal sejak enam bulan silam. Namun secara adat ia masih diperlakukan layaknya orang yang menderita sakit.


Kini, malam semakin larut. Ritual demi ritual pun telah dijalankan. Sekarang saatnya pihak keluarga melangsungkan ritual Ma`tundan atau membangunkan arwah. Seiring dimulainya Ma`tundan, suasana duka kembali tergurat di wajah sanak saudara dan orang-orang terdekat dari mendiang. Air mata pun jatuh bercucuran sebagai wujud orang yang mereka cintai bakal pergi selamanya.


Dan, hari ini, status sosial kebangsawanan itu terlihat pada bagian upacara Rambu Solo` atas kematian Ne Ne Lai Sumule. Padi yang tersimpan dalam lumbung tengah dipersiapkan untuk ditumbuk. Ritual tumbuk padi biasa dilakukan kaum wanita yang sudah tua yang memiliki kemahiran memainkan lesung dan bambu.


Bunyi-bunyian lesung dan bambu tersebut dilakukan bersamaan dengan prosesi pemindahan jasad Ne Ne Lai Sumule dari rumah duka untuk disinggahkan ke rumah adat Tongkonan untuk disemayamkan selama satu malam.


Maka, sanak saudara dan keluarga bahu-membahu mengangkat peti jenazah yang beratnya mencapai 100 kilogram untuk dinaikkan ke dalam rumah adat. Menurut adat Toraja prosesi ini melambangkan penyatuan kembali jenazah dengan para leluhurnya. Di dalam rumah adat, peti berisi jasad Ne Ne Lai itu harus dijaga semalam suntuk oleh sanak keluarga.


Hari pun berganti, kini saatnya melanjutkan prosesi pemindahan peti jenazah. Panas terik matahari pun tak mengurangi warga sekitar untuk menghormati Ne Ne Lai Sumule. Mereka telah berkumpul di lumbung rumah adat untuk melanjutkan prosesi pemindahan peti jenazah dari rumah adat ke lumbung padi.


Maka tarian penghormatan pun dilakukan. Kain merah dibentangkan sebagai lambang kebesaran suku Toraja. Sanak saudara dan warga bahu-membahu mengantarkan peti jenazah ke bawah lumbung.


Ketika peti mati diturunkan, sorak-sorai bergema di antara penduduk. Warga mencoba mengatasi beban berat yang bertumpu di atas pundak mereka. Kain merah atau lamba-lamba ini dibentangkan sebagai simbol jalan yang harus dilalui jenazah.


Akhirnya, sampailah peti jenazah di lumbung yang letaknya tepat di bawah rumah adat. Dalam keyakinan masyarakat Toraja, peletakan jasad ke dalam lumbung selama tiga malam itu menandakan jasad mendiang telah menuju pada fase kematian yang sebenarnya.(ANS/Tim Potret)

Kesimpulan:

Setiap manusia mempunyai pandangan hidup. Pandangan hidup itu bersifat kodrati. Karena itu ia menentukan masa depan seseorang. Untuk itu perlu dijelaskan pula apa arti pandangan hidup. Pendapat hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan,pedoman,arahan,petunjuk hidup didunia. Pendapat atau pertimbangan itu merupakan hasil pemikiran manusia berdasarkan pengalaman sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya.


Sumber:

http://berita.liputan6.com/progsus/200505/101475/rambu_solo_gerbang_menuju_alam_baka

0 komentar

Ketua MK: Negara Harus Mewujudkan Keadilan

MANUSIA DAN KEADILAN

Zumrotul Muslimin
Mahfud MD

20/03/2011 00:08
Liputan6.com, Medan: Ketua Mahkamah Kontitusi Mahfud MD mengatakan negara dibentuk adalah untuk mewujudkan suatu keadilan bagi rakyat. "Oleh karena itu keadilan yang dicita-citakan oleh segenap rakyat harus dapat diwujudkan," kata Mahfud dalam pidato sambutan peresmian "Monumen Nasional Keadilan" di Medan, Sumatra Utara, Sabtu (19/3).


Mahfud mengatakan, dengan mewujudkan keadilan dapat menciptakan pembangunan nasional yang meningkat baik untuk kesejahteraan rakyat maupun bangsa dan negara. Keadilan juga dapat menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, rakyat yang semakin maju, serta dapat melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan untuk kemajuan negeri ini.

"Keadilan itu juga dapat mengurangi angka kemiskinan di suatu negara, dan juga dapat memajukan rakyatnya," kata Mahfud. Selanjutnya Mahfud menjelaskan, terjadi berbagai masalah di berbagai daerah Tanah Air dikarenakan rakyat di daerah itu merasakan tidak adanya keadilan. Seperti yang terjadi di Provinsi Papua.

Lebih jauh Mahfud menjelaskan, kalau di suatu negara yang dibentuk tidak ada lagi rasa keadilan, apa gunanya negara tersebut. "Jadi keadilan itu juga sangat menentukan bagi perkembangan dan kemajuan suatu negara," katanya. Suatu negara harus menciptakan rasa keadilan sehingga tidak ada lagi masyarakat yang merasa diperlakukan tidak adil.(ANT/JUM)

Kesimpulan:
Keadilan merupakan hal yang harus dilakukan manusia dalam menjalani kehidupannya, karena dengan keadilan manusia akan mendapatkan hak dan kewajiban yang harus diterima olehnya, oleh karena itu keadilan itu harus selalu ditegakkan, dan makna keadilan itu sendiri terdapat di berbagai agama dan di seluruh dunia, yang menyatakan bahwa keadilan itu harus ditegakkan.

Sumber:
http://berita.liputan6.com/sosbud/201103/325219/ketua_mk_negara_harus_mewujudkan_keadilan
0 komentar

Seni Tubuh Mencari Jati Diri

MANUSIA DAN KEINDAHAN

08/01/2009 01:54
Liputan6.com, Jakarta: Berbagai macam cara dilakukan orang untuk mengekspresikan diri. Body piercing atau tindik tubuh adalah salah satu ajang untuk eksperimen dan eksplorasi seni pada tubuh. Piercing tak sekadar jadi ekspresi seni, tapi telah menjadi bagian dari gaya hidup. Berbagai bagian tubuh ditindik demi mendapatkan keindahan dan sensasi. Mulai dari bagian wajah hingga sudut-sudut tubuh. Bahkan, yang vital pun ditindik untuk mendapatkan kepuasan ekspresi.

Seni mengekpresikan diri lainnya adalah menato tubuh. Seni yang tergolong paling tua di muka bumi ini masih amat digemari sebagian kalangan. Tua muda, pria wanita, menyukai tato. Bahkan, tato amat bermakna bagi sang empunya. Kini, tato bukan lagi simbol gambar untuk menakuti-nakuti orang, namun menjadi sarana ekspresi yang seksi dan trendi. Bukan cuma bagian lengan, kaki, dan punggung. Tapi, juga merambah payudara dan bagian-bagian amat vital serta sangat pribadi lainnya dari kaum hawa.

Mengekspresikan diri juga bisa dituangkan di tembok-tembok kota berukuran besar. Ciri khas seni pinggiran ini menjadikan ruang publik sebagai pengganti kanvas. Ini membuat seni mural tampak berbeda dan khas. Kondisi sosial masyarakat kerap menjadi tema utama goresan, sapuan, dan semprotan cat dari seniman seni mural.

Berbeda dengan seni mural, seni mengecat tubuh atau body painting menggunakan tubuh manusia sebagai media lukis. Biasanya, diperagakan kaum perempuan. Lekuk-lekuk sang model penuh warna-warni membuat benar-benar menjadi lebih hidup. Untuk lebih lengkapnya, saksikan dalam tayangan video Eksis edisi 7 Januari 2009. Selamat menyaksikan.(BOG)

Kesimpulan:
Keindahan berasal dari kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek dan sebagainya. Benda yang mempunyai sifat indah ialah segala hasil seni, (meskipun tidak semua hasil seni indahl, pemandangari alam (pantai, pegunungan, danau, bunga-bunga di lereng gunung), manusia (wajah, mata, bibir, hidung, rambut, kaki, tubuh), rumah (halaman, perabot rumah tangga dan sebagainya), suara, warna dan sebagainya. Keindahan adalah identik dengan kebenaran.

Sumber:
http://berita.liputan6.com/progsus/200901/171069/seni_tubuh_mencari_jati_diri

0 komentar

Surip, Puluhan Tahun Hidup Lumpuh

MANUSIA DAN PENDERITAAN

Hery Prasetyo
08/04/2011 05:48
Liputan6.com, Wonogiri: Kemiskinan dan penderitaan menjadi bagian dari hidup Surip. Sejak usia lima tahun, warga Dusun Ngasinan, Desa Mlokomanis Kulon, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, itu hanya bisa tergolek pasrah. Kedua tulang kaki Surip kaku dan seolah mengecil hingga tak mampu membawanya melangkah.

Hal serupa juga terjadi pada kedua tangannya. Tak ayal, Surip pun hanya tergolek lemah di amben atau tempat tidur kayu tua di salah satu ruangan rumah gubuknya.

Penderitaan wanita 40 tahun ini berawal saat dia menderita sakit panas. Lantaran miskin, sang ibu hanya mengobatinya dengan membakar sabut kelapa di bawah amben agar tubuhnya hangat dan kembali siuman. Setelah ibunya meninggal, kini Surip hidup dari belas kasihan para tetangganya.

Hingga kini, selama 35 tahun menderita lumpuh, Surip tak pernah sekalipun pergi berobat ke dokter. "Belum pernah ke dokter," kata Surip dengan terbata kepada Liputan 6 SCTV, Kamis (7/4). "Saya mau sembuh, ingin bisa jalan."

Di saat masih banyak rakyat miskin seperti surip yang butuh uluran tangan, para anggota dewan Dewan terhormat justru hendak membangun gedung baru bernilai lebih dari Rp 1,1 triliun.(BOG)


Kesimpulan:
Penderitaan itu dapat lahir atau batin, atau lahir batin.
Penderitaan termasuk realitas dunia dan manusia. Intensitas penderitaan bertingkat-tingkat, ada yang berat ada juga yang ringan. Namun peranan individu juga menentukan berat-tidalmya intensitas penderitaan. Suatu peristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenilcmatan dan kebahagiaan.
Penderitaan akan dialami oleh semua orang, hal itu sudah merupakan "risiko" hidup. Tuhan memberikan kesenangan atau kebahagiaan kepada umatnya, tetapi juga memberikan penderitaan atau kesedihan yang kadang-kadang bennakna agar manusia sadar untuk tidak memalingkan darinya.

Sumber:
http://berita.liputan6.com/sosbud/201104/328486/surip_puluhan_tahun_hidup_lumpuh
0 komentar

Anak Pelihara Hewan Ajarkan Tanggung Jawab

MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB
31/01/2011 08:44 | Ohio
Liputan6.com, Ohio: Tidak ada yang lebih menawan saat melihat anak-anak dan hewan peliharaan mereka. Merawat hewan peliharaan dapat mengajarkan anak bagaimana berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan vokalisasi, mempelajari keinginan dan kebutuhan, serta belajar tanggung jawab.


"Merawat makhluk hidup di luar dirinya memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mengapresiasi secara alami dan meningkatkan aktivitas fisik. Selain itu, ketika ditangani dengan hati-hati, anak mengembangkan kestabilan emosi yang lebih besar dengan mengurus hewan peliharaannya dalam eadaan yang tidak menyenangkan seperti sakit, kecelakaan, atau bahkan kematian," kata dokter hewan Warren Riggle dalam situs sixtysecondparent, Senin (31/1).



Lulusan Ohio State University College of Veterinary Medicine ini mengatakan, hewan peliharaan juga meringankan stres dalam masa-masa sulit, membantu anak-anak berpikiran tenang ketika mereka sakit atau berhadapan dengan tantangan.



Menurut Riggle, rasa cinta, kesetiaan, dan kasih sayang merupakan kebutuhan dasar untuk anak Anda dan peliharaannya. Memiliki binatang peliharaan membantu anak mengembangkan rasa tanggung jawab. Memelihara binatang juga bermanfaat untuk manusia karena adanya perasaan positif tentang hewan peliharaan sehingga memberikan kontribusi kepercayaan diri anak-dan harga diri.



"Jika Anda tidak siap untuk tanggung jawab atas seorang anak kucing atau anak anjing, ada banyak pilihan lain. Ikan, hamster, marmut, dan parkit dapat menjadi pilihan hewan peliharan pertama," ujarnya.



Dengan memelihara hewan, lanjut Riggle, anak-anak belajar untuk memberikan makanan, minuman dan lingkungan yang bersih kepada hewan peliharaan mereka."Ini pelajaran yang sangat berharga dalam hubungan sosial seperti anak tumbuh dan berinteraksi dengan orang lain," imbuhnya.



"Merawat hewan peliharaan bukanlah naluri. Anak-anak perlu diajarkan cara merawat hewan peliharaan mereka dengan mengamati perilaku orangtua mereka," pungkasnya.



Namun orangtua harus tetap waspada dengan memastikan hewan peliharaan mereka itu sehat dan terawat setiap saat. (MEL)



Kesimpulan:
anggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun tidak disengaja.

Seseorang mau bertanggung jawab karena ada kesadaran atau keinsafan, atau pengertian atas segala perbuatan dan akibatnya atas kepentingan pihak lain. Timbulnya tanggung jawab itu karena manusia itu hidup bermasyarakat, dan hidup dalam lingkungan alam. Manusia tidak boleh berbuat semaunya terhadap manusia lain dan terhadap alam lingkungannya.

Tanggung jawab itu bersifat kodrati, artinya sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia, dan setiap manusia pasti dibebani dengan tanggung jawab.

Tanggung jawab adalah ciri manusia beradab (berbudaya). Manusia merasa bertanggung jawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk dari perbuatannya itu.

Sumber:
0 komentar

Tari Gandrung Banyuwangi, Membuat Laki-Laki Kesemsem

Gandrung Banyuwangi berasal dari kata Gandrung, yang berarti tergila-gila atau cinta habis-habisan. Tarian ini masih satu genre dengan tarian seperti Ketuk Tilu di Jawa Barat, Tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, Lengger di Cilacap dan Banyumas dan Joged Bumbung di Bali, yakni melibatkan seorang wanita penari professional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan musik atau gamelan.

Tarian ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan Gandrung, dan anda akan menjumpai patung penari Gandrung di berbagai sudut wilayah Banyuwangi, dan tak ayal lagi Banyuwangi sering dijuluki Kota Gandrung.

Tari Gandrung ini sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya.

Asal-Usul Tari Gandrung
Menurut catatan sejarah, gandrung pertama kalinya ditarikan oleh para lelaki yang didandani seperti perempuan dan menurut laporan Scholte (1927) instrumen utama yang mengiringi tarian gandrung lanang ini adalah kendang. Namun demikian, gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dari Banyuwangi sekitar tahun 1890-an, yang dimungkinkan karena ajaran Islam melarang segala bentuk travesty atau berdandan seperti perempuan. Namun, tari gandrung laki-laki baru benar-benar lenyap pada tahun 1914, setelah kematian penari terakhirnya, yakni Marsan.

Sedangkan Gandrung wanita pertama yang dikenal dalam sejarah adalah gandrung Semi, seorang anak kecil yang waktu itu masih berusia sepuluh tahun pada tahun 1895. Menurut cerita yang dipercaya, waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala cara sudah dilakukan hingga ke dukun, namun Semi tak juga kunjung sembuh. Sehingga ibu Semi (Mak Midhah) bernazar seperti “Kadhung sira waras, sun dhadekaken Seblang, kadhung sing yo sing” (Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang, kalau tidak ya tidak jadi). Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan Seblang sekaligus memulai babak baru dengan ditarikannya Gandrung oleh wanita.

Tradisi Gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya. Kesenian ini kemudian terus berkembang di seantero Banyuwangi dan menjadi ikon khas setempat.

Pada mulanya Gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari gandrung sebelumnya, namun sejak tahun 1970an mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan gandrung, yang mempelajari tarian ini dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian disamping mempertahankan eksistensinya yang makin terdesak oleh era globalisasi.

Namun menurut sumber yang berbeda, tari gandrung konon lahir pada zaman Kerajaan Airlangga di Jawa Timur. Dalam suasana bersukaria, para prajurit keraton ada yang menabuh gamelan, ada yang menari. Mereka menari secara bergantian setelah penari sebelumnya menyentuh penonton yang berdiri di tepi arena.

Perkembangan berikutnya, penari utamanya adalah perempuan (gandrung) yang pada awal penampilannya menyatakan tiang lanang (saya lelaki) kemudian menari sambil bernyanyi (basandaran atau bedede).

Tari ini terdiri atas tiga babak, yaitu babak bapangan-penari memperkenalkan diri kepada penonton-babak gandrangan di mana penari dengan kipas di tangan mengitari arena. Saat tertentu penari menyentuhkan kipasnya (tepekan) pada salah seorang penonton, yang serta-merta maju ke tengah arena untuk menari (pengibing).

Kemudian babak parianom, di mana penari menari sambil bernyanyi dan melayani sang pengibing. Tiap pengibing diberi waktu menari sekitar 10 menit dan menyerahkan uang ala kadarnya sebelum meninggalkan arena.

Pementasannya dilakukan malam hari, umumnya sebagai hiburan maupun meramaikan pesta khitanan, pernikahan, dan dalam perkembangannya untuk memperingati hari besar nasional. Instrumennya berupa pemugah, saron, galung, jegogan, rincik, petuk, terompong, gender, redep (rebab), dan suling.

Selama melayani pengibing, penari gandrung dilengkapi gelungan atau hiasan kepala yang bagiannya disebut gempolan, yang bagian ujungnya runcing. Ini adalah ’senjata’ penari untuk menghindari pengibing ’nakal’ yang berusaha menyentuh bagian sensitif atau mencoba mencium penari. Dengan menggerakkan kepalanya, penari memfungsikan gempolan tadi sehingga pengibing bisa tergores luka jika tidak segera menghindar.

Bagian-Bagian Gandrung

Pertunjukan Gandrung yang asli terbagi atas tiga bagian, yakni Jejer, Maju atau Ngibing dan Seblang Subuh . Jejer merupakan pembuka seluruh pertunjukan Gandrung, dimana pada bagian ini, penari menyanyikan beberapa lagu dan menari secara solo, tanpa tamu. Para tamu yang umumnya laki-laki hanya menyaksikan.

Kemudian setelah acara jejer selesai, maka sang penari mulai memberikan selendang-selendang untuk diberikan kepada tamu. Tamu-tamu pentinglah yang terlebih dahulu mendapat kesempatan menari bersama-sama. Biasanya para tamu terdiri dari empat orang, membentuk bujur sangkar dengan penari berada di tengah-tengah. Si Gandrung akan mendatangi para tamu yang menari dengannya satu persatu dengan gerakan-gerakan yang menggoda, dan itulah esensi dari tari Gandrung, yakni tergila-gila atau hawa nafsu.

Setelah selesai, si penari akan mendatang rombongan penonton, dan meminta salah satu penonton untuk memilihkan lagu yang akan dibawakan. Acara ini diselang-seling antara maju dan repen (nyanyian yang tidak ditarikan), dan berlangsung sepanjang malam hingga menjelang subuh. Kadang-kadang pertunjukan ini menghadapi kekacauan, yang disebabkan oleh para penonton yang menunggu giliran atau mabuk, sehingga perkelahian tak terelakkan lagi.

Seblang Subuh, Bagian ini merupakan penutup dari seluruh rangkaian pertunjukan Gandrung Banyuwangi. Setelah selesai melakukan maju dan beristirahat sejenak, dimulailah bagian Seblang Subuh. Dimulai dengan gerakan penari yang perlahan dan penuh penghayatan, kadang sambil membawa kipas yang dikibas-kibaskan menurut irama atau tanpa membawa kipas sama sekali. Sambil menyanyikan lagu-lagu bertema sedih seperti misalnya Seblang lokento. Justru suasana mistis terasa pada saat bagian Seblang Subuh ini, karena masih terhubung erat dengan ritual Seblang. Pada masa sekarang ini, bagian Seblang Subuh kerap dihilangkan, namun sebenarnya bagian ini yang menjadi pelengkap satu pertunjukan tari Gandrung.

Kesimpulan:
Untuk menghindari kepunahan dalam Kesenian Gandrungan ini banyak para seniman yang melestarikannya dengan cara mendirikan sekolah kursus untuk tarian Gandrungan dan tarian dari Banyumas yang lainnnya dalam yang sifatnya FORMAL maupun NON FORMAL. Seperti halnya oleh pemerintah tarian gandrung tersebut dijadikan sebagai salah satu pelajaran kesenian yang terdapat pada sekolah sekolah negeri.

Sebagai bangsa indonesia yang mempunyai berbagai macam kebudayaan sudah selayaknya kita melestarikan dan menjaga kebudayaan kita sendiri sebelum kebudayaan tersebut menghilang maupun diakui oleh pihak lain. Dengan sikap dan pemikiran positif mari kita lestarikan budaya kita :) !! 0 komentar

Merapi dan Kosmologi Jawa

MANUSIA DAN KEGELISAHAN

03/11/2010 20:34
Liputan6.com, Yogyakarta: Pertengahan Oktober 2010. Yogyakarta gelisah. Pasalnya, awan panas yang biasa disebut masyarakat setempat dengan julukan wedhus gembel--wujudnya seperti domba gimbal--muntah dari mulut Gunung Merapi.

Markas pemantau pun panik. Awan bersuhu lebih dari 500 derajat selsius itu keluar begitu cepat, persis dua hari setelah Merapi berstatus waspada. Penduduk tak tenang. Karena, gejolak Merapi belum mereda.

Salah satu gunung paling aktif di dunia ini kembali menyemburkan awan panas, empat hari kemudian. Abu gunung pun berjatuhan dari langit, buah dari awan panas yang terbawa angin. Nyaris sepekan Yogyakarta dirundung kegelisahan.

Efeknya, pepohonan terkena abu, hewan-hewan pun mati bergelimpangan di Desa Kinaherjo yang seketika menjadi kelabu. Kampung di selatan lereng Merapi itu berselimut debu. Sapuan awan panas lebih dari 30 menit telah merusak segalanya tak terkecuali manusia. Hampir lima puluh orang tewas sudah. Termasuk Mbah Maridjan--juru kunci Merapi--yang ditemukan kaku dalam keadaan sujud di kediamannya.

Raden Ngabehi Surakso Hargo. Nama abdi dalem Keraton Yogyakarta itu tak sekondang sapaan akrabnya, Mbah Maridjan. Kuncen Merapi itu menjadi buah bibir setelah menolak perintah Sri Sultan Hamengkubuwono X agar turun gunung ketika Merapi meletus empat tahun silam.

Setelah 28 tahun mengabdi sebagai juru kunci, Mbah Maridjan menutup takdir sebagai legenda Merapi. Sang Kuasa memanggilnya lewat tragedi yang dramatis. Awan panas dengan kecepatan lebih dari 100 kilometer per jam menerjang rumahnya. Dan seketika hidup Mbah Maridjan berakhir menghadap Ilahi dengan menyisakan sujud terakhir.

Sebagai juru kunci, sosok Mbah Maridjan begitu penting lantaran Kesultanan Yogyakarta menganggap Merapi sebagai simbol kosmologis yang membentuk poros sakral utara selatan. Dan struktur sejarah alam semesta Yogyakarta berupa garis lurus khayal yang terdiri dari tiga pilar. Gunung merapi di utara, laut di selatan, dan Keraton Yogyakarta di titik pusat.

Menurut seorang budayawan Yogyakarta Damarjati Supadjar, masyarakat Jawa percaya kehidupan dunia adalah sebuah harmoni antara mikrokosmos dan makrokosmos, jagat alit atau kecil, dan jagat ageng atau besar.

Merapi dan Laut Selatan dipercaya sebagai pusat kedudukan jagat cilik. Sementara keraton menjadi pusat jagad gede. Keduanya tidak boleh timpang. Harus terus seimbang.

Pada titik itulah peran Mbah Maridjan sangat penting. Seperti halnya di Laut Selatan yang dijaga Surakso Tarwono, keraton juga merasa perlu menempatkan abdi dalem untuk Merapi agar masyarakat di sekitarnya terjaga. Fungsi konkretnya, sebagai wakil keraton, Mbah Maridjan harus bisa mengayomi masyarakat sekaligus memimpin ritual labuhan setahun sekali.

Kini, tak akan terlihat lagi sosok pria renta itu. Garis hidupnya terukir menjadi sejarah. Sejarah sebuah gunung, yang kental dengan mitologi.

Dalam kajian Ilmu Vulkanologi, Gunung Bibi dianggap sebagai cikal bakal Merapi. Ada empat periode jejak sejarah Merapi berdasarkan usia bebatuan. Pertama, periode 400 ribu tahun silam, ketika Merapi belum tampak dan masyarakat Jawa purba lebih akrab dengan keberadaan Gunung Bibi.

Kedua, periode Merapi tua, sekitar delapan ribu tahun lampau. Pada tahap ini mulai terlihat bentuk kerucut yang belum sempurna di lereng Gunung Bibi. Ketiga, zaman Merapi pertengahan, sekitar dua ribu tahun lalu. Pada periode ini, letusan Merapi meninggalkan bentuk bebatuan tapal kuda dengan beberapa bukit. Saat aitu pula terbentuk kawah pasar bubar.

Dan yang terakhir, disebut era Merapi baru. Masa ketika kawah pasar bubar telah berbentuk kerucut yang saat ini menjadi pusat aktivitas Merapi.

Merapi terletak di zona subduksi. Tepat di posisi tumbukan lempeng Indo-Australia yang terus bergerak ke lempeng Eurasia. Merapi menjadi gunung berapi termuda di selatan Pulau Jawa.

Periode letusan Merapi rata-rata bersiklus pendek dan terjadi antara dua sampai lima tahun. Tak jarang, terjadi juga setiap lima sampai tujuh tahun. Ketenangan Merapi tercatat sempat mencapai 30 tahun. Terutama pada masa awal keberadaannya sebagai gunung berapi. Dan jeda terpanjang terjadi selama 71 tahun, pada abad ke-16 dan awal abad 17.

Satu di antara letusan Merapi yang dahsyat dan berdampak besar terjadi pada 1930. Letusan itu menghancurkan 13 desa dan menewaskan 1.400 jiwa. Muntahan awan panas berisi campuran material debu hingga blok bersuhu tinggi membuat Merapi berbeda dengan letusan gunung berapi lain. Letusan itu dikenal sebagai Merapi type. Tipe letusan yang meski tak meledak-ledak hebat tetapi selalu membuat warga lereng harus pergi untuk berlindung.(ASW/SHA)
0 komentar

Setiap Hiasan Natal Punya Makna

MANUSIA DAN HARAPAN

17/12/2010 09:38
Liputan6.com, Jakarta: Perayaan Natal akan makin terasa meriah dengan hadirnya berbagai hiasan dan pernak pernik yang menghiasi gedung gereja, rumah atau ruang kerja. Tapi hiasan itu sebenarnya bukan sekedar hiasan. karena setiap jenis hiasan adalah lambang yang punya arti dan makna tertentu.

Bintang dan Tiga Raja
Lambang Ketaatan dan Kerendahan Hati. Dikisahkan, berita kelahiran Yesus saat itu terdengar sampai ke telinga Tiga Raja dari Timur. Mereka kemudian mengikuti sebuah bintang di langit sebagai penunjuk jalan, dan karena ketaatan mereka mengikuti arah yang ditunjukkan, ketiga raja itu sampai ke kandang tempat Yesus dilahirkan. Mereka mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur kepada Yesus sebagai simbol kerendahan hati mereka. Apa yang dilakukan oleh Tiga Raja ini memberi teladan bagi umat manusia agar senantiasa memiliki semangat ketaatan dan kerendahan hati di hadapan Tuhan dan sesama.

Krans Dedaunan
Lambang Harapan, Suka Cita, Dan Casi. Dedaunan yang dirangkai melingkar ini biasa disebut rangkain adven. Rangkain ini menggambarkan perjalanan umat Kristiani, khususnya Katholik, dalam masa penantian akan kedatangan Tuhan di hari Natal. Adven, berasal dari kata latin adventus yang artinya "kedatangan", adalah masa atau periode sebelum Natal yang dimulai pada minggu ke-4 sebelum Natal dan berakhir pada malam Natal.

Krans dibuat melingkar, memiliki makna Tuhan yang abadi tanpa awal dan akhir. Daun-daun yang dipakai adalah daun-daun evergreen yang senantiasa hijau. Ini melambangkan Kristus sendiri yang mati dan hidup kembali untuk selama-lamanya. Ini juga lambang keabadian jiwa, yang dengan kedatangan Kristus memiliki kehidupan abadi yang tanpa akhir. Pada awal masa Adven, sebatang lilin dinyalakan, disusul penyalaan lilin lain masing-masing di minggu berikutnya, seiring dengan bertambah terangnya lingkaran adven setiap minggu dengan bertambah banyaknya lilin yang dinyalakan, kita pun diingatkan bahwa kelahiran Sang Terang Dunia semakin dekat.

Lonceng
Lambang kegembiraan dan kemeriahan Natal. Ketika lonceng-lonceng ini dibunyikan, maka kumandangnya menyemarakan seluruh bumi. Alkisah, ketika bayi Yesus lahir lonceng-lonceng dibunyikan untuk mengabarkan dan mengundang setiap orang untuk datang menikmati kegembiraan bersama. Tak hanya di hari Natal, saat ini pun lonceng dibunyikan di gereja-gereja pada jam-jam tertentu sebagai tanda dimulainya misa atau perjamuan ekaristi.

Cemara Pohon Natal
Lambang Kesetiaan Iman. Kesemarakan Natal menjadi lebih meriah dengan hadirnya pohon ini. Jerman, adalah negara yang disebut-sebut pencipta tradisi ini. Adalah Santo Bonifasius penyebar agama Kristen di Jerman. Dia murka ketika di tengah lawatannya berjumpa dengan sekelompok orang yang sedang memuja pohon oak. Maka, pohon oak pun ditebangnya. Keajaiban terjadi, dari akar pohon yang telah tumbang itu tumbuh tunas cemara. Kejadian ini dipercaya sebagai tanda akan kesetiaan orang Kristiani akan imannya. Dan sejak kejadian itu, di abad ke-15 mulailah pohon cemara dipakai sebagai hiasan Natal di Jerman. Cerita ini adalah salah satu kisah di antara banyak kisah lain yang menjadi awal tradisi pohon cemara sebagai hiasan Natal. Trend pohon cemara sebagai hiasan Natal selalu berubah setiap tahunnya. Dijiwai semangat & harapan yang sama, yaitu makin kokohnya kesetiaan umat beriman Kristiani akan imannya, pohon cemara hadir dalam berbagai rupa.

Poinsetta
Lambang Berseminya Iman dan Harapan Baru. Harapan yang terkandung disana, Mukzijat pun akan terjadi bagi setiap orang yang percaya. Mekarnya kuntum bunga poinsettia menjadi simbol berseminya iman & harapan baru dengan lahirnya Sang Juru Selamat. Begitu terkenalnya bunga ini di Amerika hingga ada satu hari khusus yang didesikasikan bagi sang bunga. Hari poinsetta diperingati setiap 12 Desember.

Malaikat
Lambang Cinta, Kesucian, Dan Perdamaian. Karena kecintaannya kepada umatnya, kelahiran Yesus diberitakan ke seluruh dunia melalui kabar yang dibawa oleh malaikat utusan Allah. Kabar gembira ini mengandung makna damai bagi seluruh umat manusia dan kecintaan Tuhan yang rela hadir ke dunia dan menjelma menjadi manusia.

Santa Klaus dan Kaus Kaki
Lambang Kebaikan Tuhan dan Rezeki. Santa Klaus mengisahkan seorang bernama Nicholaus yang begitu murah hati membantu orang lain. Apa yang dilakukan Nicholaus diterjemahkan dalam tradisi Natal yang dilakukan orang pada saat ini. Pada malam Natal, kaus kaki digantungkan di pohon terang atau di pintu-pintu. Keesokan harinya ketika Natal tiba, kaus-kaus sudah berisi hadiah yang dibawa oleh "Santa Klaus" yang diperuntukkan bagi anak-anak yang hidupnya baik dan taat pada Tuhan. Hiasan ini menimbulkan semangat bagi seluruh umat agar memelihara kehidupan baik di dunia agar dapat ikut serta menikmati kegembiraan saat Natal tiba. (mypepito.info/iklanpos/MLA)
0 komentar

Ilmu pengetahuan, teknologi dan kemiskinan

Ahad 17 Oktober kemarin diperingati sebagai Hari Anti Kemiskinan. Sebagai salah satu fenomena sosial yang dihadapi oleh semua negara, kemiskinan merupakan bagian dari agenda pembangunan yang tak henti-hentinya menjadi wacana dan diskursus yang ramai didiskusikan oleh berbagai kalangan.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), sampai Maret 2010 jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai 31,02 juta jiwa atau sekitar 13,3 persen dari jumlah penduduk. Angka ini mengalami penurunan 1,51 juta jiwa dibanding tahun Maret 2009 yang mencapai 32,53 juta orang.

Selain itu,jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan mengalami penurunan 0,81 juta jiwa atau 11,10 juta orang sampai Maret (2010) dari 11,91 juta di Maret 2009. Demikian halnya di daerah perdesaan telah mengalami penurunan 0,69 juta jiwa, atau dari 20,62 juta (Maret 2009) menjadi hanya 19,93 juta jiwa tahun ini.

Kemiskinan memang merupakan salah satu masalah sosial yang selalu ramai dan menarik untuk dibicarakan. Terlebih lagi dengan adanya kenaikan tarif dasar listrik yang terhitung mulai 1 Juli 2010 yang sangat berpengaruh terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok.

Ironisnya, rakyat miskinpun harus menghadapi berbagai persoalan yang tidak hanya terbatas pada bagaimana cara memenuhi kebutuhan itu melainkan juga pada masalah lain seperti kebutuhan akan pendidikan, perumahan dan pelayanan kesehatan yang layak.

Oleh karena itu, wajar apabila kerap kali mengemuka informasi tentang betapa banyaknya keluarga miskin yang ikut antre berdesak-desakan demi mendapatkan bantuan sembako maupun pelayanan kesehatan gratis.

Pertanyaannya, seperti apakah kemiskinan itu? Secara sederhana dapat dijelaskan bahwa kemiskininan dapat diartikan sebagai kelaparan, kekurangan gizi, pakaian dan perumahan yang tidak layak, tingkat pendidikan yang rendah, serta sedikit sekali kesempatan untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai.

Adapun mengenai pembangunan dapat dilihat sebagai suatu perubahan yang semakin luas dari semua komponen yang ada dalam masyarakat. Salah satu tantangan yang dihadapi dalam pembangunan adalah persoalan transformasi eksternal masyarakat yang meliputi perubahan sosial,

ekonomi dan teknologi yang acapkali tidak menguntungkan masyarakat dan bahkan banyak menimbulkan kesenjangan dan goncangan dalam tatanan kehidupan sosial ekonomi.

Yang termasuk tantangan transformasi internal masyarakat mencakup tekanan pertambahan penduduk yang tidak diimbangi pertumbuhan ekonomi yang memadai.

Memang benar kalau berbagai program pembangunan yang telah dilaksanakan lebih berorientasi pada pemenuhan target tertentu sehingga sering pula tidak memperhatikan kelanjutan program pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia serta pelembagaan pembangunan.

Akibatnya, program pembangunan kurang berorientasi pada pemberdayaan, pelembagaan pembangunan dan peningkatan kemampuan dalam menciptakan kualitas sumber daya manusia yang memiliki kemandirian dan malah sebaliknya akan memperkuat ketergantungan sehingga implikasinya pada masih menumpuknya rakyat miskin.

Konsekuensi logis dari semua ini adalah tujuan pembangunan untuk menciptakan kesejahteraan dalam semua aspek kehidupan masyarakat hanya akan menjadi mitos bagi keluarga miskin. Oleh sebab itu, ujung tombak hakikat pembangunan terletak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia yang mandiri dan produktif didukung ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai penggerak utama pembangunan.
***

Tujuan pembangunan nasional adalah membangun suatu masyarakat yang maju, mandiri dan sejahtera. Tujuan ini hanya bisa tercapai dengan cara memajukan perekonomian nasional yang diimbangi kualitas sumber daya manusia. Apalagi, kondisi kehidupan ekonomi dan sosial serta kemampuan kelembagaan sangat beragam tingkat kemajuan dan kemampuannya.

Di samping itu, masalah pembangunan di daerah pun bermunculan yang ditandai adanya kesenjangan antar-kawasan desa dan kota, timur dan barat, antar-kelompok, pendapatan, tingkat urbanisasi yang tinggi, jumlah penduduk yang hidup di dalam kantong kemiskinan masih relatif besar dan seterusnya.

Dalam konteks ini, peran dan fungsi pemerintah serta masyarakat dalam proses pembangunan guna meningkatkan daya saing, kreativitas, aktivitas, partisipasi masyarakat, kemitraan pemerintah dan dunia usaha adalah prinsip yang perlu terus dikembangkan melalui berbagai program pembangunan.

Itulah sebabnya, salah satu strategi pembangunan guna meningkatkan SDM dan pengentasan penduduk miskin yang berorientasi pada pemberdayaan, pelembagaan dan kelembagaan pembangunan maka pemerintah mencanangkan program bantuan untuk keluarga miskin. Di samping itu, penguatan sosial ekonomi rakyat sebagai basis terbesar diharapkan dapat menghasilkan landasan yang kukuh bagi pembangunan nasional lewat peningkatan daya beli masyarakat secara menyeluruh.

Program bantuan untuk penduduk miskin merupakan program dan gerakan nasional yang berorientasi pada masyarakat miskin sehingga relevan dengan pembangunan sektoral, regional, daerah dan pembangunan masyarakat.

Dengan demikian, program ini dapat dinilai sebagai strategi pemerataan dan peningkatan SDM pembangunan yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi sosial ekonomi penduduk miskin sebagai wadah saluran aspirasi dalam meningkatkan taraf hidupnya melalui usaha produktif yang berkelanjutan dan mempercepat pengurangan penduduk miskin.

Oleh karena kemiskinan sering kali berkaitan erat dengan masalah SDM, tingkat pendidikan dan strategi pembangunan menuju masyarakat yang sejahtera maka untuk mengatasi masalah kemiskinan kiranya perlu diadakan program pembangunan yang berorientasi pada masyarakat miskin melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia guna meningkatkan produktivitas mereka.

Sebetulnya, pendekatan ini juga pernah dikemukakan oleh salah seorang ekonom ternama seperti Gunnar Myrdall, misalnya lewat karyanya yang cemerlang meski tergolong klasik Asian Drama: An Inquiry Into The Poverty of Nations(1968) bahwa pembangunan ekonomi bertujuan untuk mengatasi masalah kemiskinan yang sangat ditentukan oleh peningkatan kualitas sumber daya ekonomi dan faktor manusia.

Di samping itu, ada satu hal yang perlu disadari bahwa di negara yang tergolong berpendapatan rendah, persoalan kemiskinan bukanlah hal yang baru. Soalnya, di sanalah ada tempat di mana kemiskinan absolut muncul dari generasi ke generasi dan bahkan sudah sedemikian endemik di seluruh wilayah. Dan sudah barang tentu ini ikut mempengaruhi kemampuan mereka untuk bersikap tanggap dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. (**)

Sumber : http://metronews.fajar.co.id/read/107637/19/kemiskinan-dan-mitos-pembangunan

Solusi : Pemerintah harus membuat dan membuka lowongan pekerjaan bagi masyarakat agar semua masyarakat dapat memperoleh penghasilan dan dapat hidup dengan layak. bila perlu kita sebagai masyarakat juga harus membuat usaha sendiri bila tidak mempunyai modal untuk membuka usaha mintalah bantuan pada badan usaha yang dapat memberikan kredit dengan bunga yang ringan. 0 komentar

Pemuda dan Sosialisasi

Pemuda
Pemuda adalah golongan manusia manusia muda yang masih memerlukan pembinaan dan pengembangan kearah yang lebih baik, agar dapat melanjutkan dan mengisi pembangunan yang kini telah berlangsung, pemuda di Indonesia dewasa ini sangat beraneka ragam, terutama bila dikaitkan dengan kesempatan pendidikan. Keragaman tersebut pada dasarnya tidak mengakibatkan perbedaan dalam pembinaan dan pengembangan generasi muda.

Proses kehidupan yang dialami oleh para pemuda Indonesia tiap hari baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat membawa pengauh yang besar pula dalam membina sikap untuk dapat hidup di masyarakat. Proses demikian itu bisa disebut dengan istilah sosialisasi, proses sosialisasi itu berlangsung sejak anak ada di dunia dan terus akan berproses hingga mencapai titik kulminasi.

jadi jelaslah sekarang keragaman pemuda Indonesia dilihat dari kesempatan pendidikannya serta dihubungkan dengan keragaman penduduk dalam suatu wilayah, maka proses sosialisasi yang dialami oleh para pemuda sangat rumit. Sehubungan dengan perkembangan individu pemuda itu sendiri dan dalam rangka melepaskan diri dari ketergantungan pada orang tua, maka pengalaman-pengalaman yang dialainya itu kadang membingungkan dirinya sendiri.

Pemuda Indonesia

Pemuda dalam pengertian adalah manusia-manusia muda, akan tetapi di Indonesia ini sehubungan dengan adanya program pembinaan generasi muda pengertian pemuda diperinci dan tersurat dengan pasti. Ditinjau dari kelompok umur, maka pemuda Indonesia adalah sebagai berikut :

Masa bayi : 0 – 1 tahun

Masa anak : 1 – 12 tahun

Masa Puber : 12 – 15 tahun

Masa Pemuda : 15 – 21 tahun

Masa dewasa : 21 tahun keatas

Dilihat dari segi budaya atau fungsionalya maka dikenal istilah anak, remaja dan dewasa, dengan perincian sebagia berikut :

Golongan anak : 0 – 12 tahun

Golongan remaja : 13 – 18 tahun

Golongan dewasa : 18 (21) tahun keatas

Usia 0-18 tahun adalah merupakan sumber daya manusia muda, 16 – 21 tahun keatas dipandang telah memiliki kematangan pribadi dan 18(21) tahun adalah usia yagn telah diperbolehkan untuk menjadi pegawai baik pemerintah maupun swasta

Dilihat dari segi ideologis politis, generasi muda adalah mereka yang berusia 18 – 30 – 40 tahun, karena merupakan calon pengganti generasi terdahulu. Pengertian pemuda berdasarkan umur dan lembaga serta ruang lingkup tempat pemuda berada terdiri atas 3 katagori yaitu :

1. siswa, usia antara 6 – 18 tahun, masih duduk di bangku sekolah
2. Mahasiswa usia antara 18 – 25 tahun beradi di perguruan tinggi dan akademi
3. Pemuda di luar lingkungan sekolah maupun perguruan tinggi yaitu mereka yang berusia 15 – 30 tahun keatas.

Akan tetapi, apabila melihat peran pemuda sehubungan dengan pembangunan, peran itu dibedakan menjadi dua yaitu

1. Didasarkan atas usaha pemuda untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan lingkungan. Pemuda dalam hal ini dapat berperan sebagai penerus tradisi dengan jalan menaati tradisi yang berlaku
2. Didasarkan atas usaha menolak menyesuaikan diri dengan lingkungan. Peran pemuda jenis ini dapat dirinci dalam tiga sikap, yaitu : pertama jenis pemuda “pembangkit” mereka adalah pengurai atu pembuka kejelasan dari suatu masalah sosial. Mereka secara tidak langsung ktu mengubah masyarakat dan kebudayaan. Kedua pemuda pdelinkeun atau pemuda nakal. Mereka tidak berniat mengadakan perubahan, baik budaya maupun pada masyarakat, tetapi hanya berusaha memperoleh manfaat dari masyarakat dengan melakukan tidnakan menguntungkan bagi dirinya, sekalipun dalam kenyataannya merugikan. Ketiga, pemuda radikal. Mereka berkeinginan besar untuk mengubah masyarakat dan kebudayaan lewat cara-cara radikal, revolusioner.

Kedudukan pemuda dalam masyarakat adalah sebagai mahluk moral, mahluk sosial. Artinya beretika, bersusila, dijadikan sebagai barometer moral kehidupan bangsa dan pengoreksi. Sebagai mahluk sosial artinya pemuda tidak dapat berdiri sendiri, hidup bersama-sama, dapat menyesuaikan diri dengan norma-norma, kepribadian, dan pandangan hidup yagn dianut masyarakat. Sebagai mahluk individual artinya tidak melakukan kebebasan sebebas-bebasnya, tetapi disertai ras tanggung jawab terhadap diri sendiri, terhadap masyarakat, dan terhadap Tuhan Yang maha Esa.

Sosialisasi Pemuda

Melalui proses sosialisasi, seorang pemuda akna terwarnai cara berpikir dan kebiasaan-kebiasaan hidupnya. Dengan demikian, tingkah laku seseorang akan dapat diramalkan. Dengan proses sosialisasi, seseorang menajdi tahu bagaimana ia mesti bertingkah laku di tengah-tengah masyarakat dan lingkungan budayanya. Dari keadaan tidak atau belum tersosialisasi, menjadi manusia masyarakat dan beradab. Kedirian dan kepribadian melalui proses sosialisasi dapat terbentuk. Dalam hal ini sosialisasi diartikan sebagai proses yang membantu individu melalui belajar dan menyesuaikan diri, bagaiman cari hidup dan bagaimana cara berpikir kelompoknya gar dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya. Sosialisasi merupakan salah satu proses belajar kebudayaan dari anggota masyarakat dan hubungannya degnan sistem sosial.

Proses sosialisasi banyak ditentukan oleh susunan kebudayaan dan lingkungan sosial yang bersangkutan. Berbeda dengan inkulturasi yang mementingkan nilai-nilai dan norma-norma kebudayaan dalam jiwa individu, sosialisasi dititik beratkan pada soal individu dalam kelompok melalui pendidikan dan perkembangannya. Oleh karena itu proses sosialisasi melahirkan kedirian dan kepribadian seseorang. Kedirian (self) sebagai suatu prosuk sosialisasi, merupakan kesadaran terhadap diri sendri dan memandang adanya pribadi orang lain di luar dirinya. Kesadaran terhadap diri sendiri membuat timbulnya sebutan “aku” atau “saya” sebagai kedirian subyektif yang sulit dipelajari. Asal mula timbulnya kedirian :

1. Dalam proses sosialisasi mendapat bayangan dirinya, yaitu setelah memperhatikan cara orang lain memandang dan memperlakukan dirinya. Misalnya ia tidak disukai, tidak dihargai, tidak dipercaya; atau sebaliknya, ida disayangi, baik budi dandapt dipercaya
2. Dalam proses sosialisasi juga membentuk kedirian yang ideal. Orang bersangkutan mengetahui dengan pasti apa-apa yang harus ia lakukan agar memperoleh penghargaan dari orang lain. Bentuk-bentuk kedirian ini berguna dalam meningkatkan ketaatan anak terhadap norma-norma sosial



Bertitik tolak dari pengertian pemuda, maka sosialisasi pemuda dimulai dari umur 10 tahun dalam lingkungan keluarga, tetangga, sekolah, dan jalur organisasi formal atau informal untuk berperan sebagai mahluk sosial, mahluk individual bagi pemuda

Thomas Ford Hoult, menyebutkan bahwa proses sosialisasi adalah proses belajar individu untuk bertingkah laku sesuai dengan standar yang terdapatdalam kebudayaan masyarakatnya. Menurut R.S. Lazarus, proses sosialisasi adalah proses akomodasi, dengan mana individu menghambat atau mengubah impuls-impuls sesuai dengan tekanan lingkungan, dan mengembangkan pola-pola nilai dan tingkah laku-tingkah laku yang baru yang sesuai dengan kebudayaan masyarakat.


Contoh kasus :

Ciri negara berkembang adalah negara yang mempunya populasi yang banyak dan pendapatan negaranya masih tergolong rendah.
Hal ini dikarnakan banyaknya jumlah penduduk khususnya di indonesia dan tingkat penggangguran di indonesia tinggi, dan kurang seimbangnya fasilitas pendidikan dan lapangan kerja dengan jumlah generasi pemuda pada saat sekarang ini.


Di negara kita generasi pemuda sangat memperihatinkan pada saat sekarang ini. Seperti banyak penyimpangan moral seperti menggunakan narkoba , ngamen dipinggir jalan dan lain-lain. Hal ini dikarnakan salah satu khasus yaitu kurang seimbangnya pendidikan dan lapangan kerja dengan jumlah generasi pemuda. Kurangnya fasilitas dan lapangan kerja dengan pemuda di indonesia ini mejadikan tingkat produktifitas dan kreasi pemuda bangsa indonesia semakin hari makin memperihatinkan.



Solusinya :
Pemerintah membuat lembaga pendidikan agar generasi pemuda indonesia menjadi lebih baik dan membuka lapangan perkerjaan. Serta membuat subsii silang agar setiap pemuda diberikan modal usaha untuk menjadi wirausahawan. 0 komentar